
Dalam kehidupan dunia ini kita harus berhati-hati dengan sosok makhluk
Allah yang selalu ingin menjerumuskan manusia yaitu iblis yang dendam
kepada manusia sejak zaman Adam. Iblis telah banyak menjerumuskan
manusia diantaranya menipu Nabi Adam A.S. sehingga keluar dari syurga,
Habil mati teraniaya dibunuh oleh Qabil dengan sebab hasutan iblis.
Nabi Ayub A.S. ditipu asap racun pada waktu sujud di dalam shalatnya
hingga begitu lama menanggung sengsara, Nabi Daud A.S. dengan perempuan
pahlawan Urya serta Nabi Sulaiman A.S. meninggalkan kerajaannya karena
iblis menyamar sebagai isterinya untuk melarikan cincin nya, demikian
juga beberapa nabi-nabi yang lain, serta para ulama yang telah
menanggung kesengsaraan dan penganiayaan oleh perbuatan iblis.
Iblis
bukan hanya sosok makhluk fiktif, tapi dia benar-benar ada sebagaimana
yang telah diinformasikan oleh Allah melalui kitab suci Al-Qur’an dan
Al-Hadits. Dan kita sebagai umat Islam harus percaya itu..
Iblis
telah mengganggu manusia sejak zaman Adam, tidak hanya Adam, para Nabi
terdahulu sebelum Nabi Muhammad sering mendapat gangguan darinya.
Kalau Nabi Allah saja menjadi sasaran iblis untuk digoda dan dijauhkan dari Allah apalagi kita yang hanya manusia biasa.
Tetapi
beruntunglah ummat Muhammad SAW dimana telah mendapatkan informasi
tentang tipu muslihat Iblis yang hendak dilaksanakan pada bani Adam.
Diantaranya menggoda manusia untuk enggan melaksanakan ibadah shalat.
Shalat merupakan ibadah yang diwajibkan oleh Allah SWT, dan iblis tahu
itu maka dia akan selalu menggoda manusia agar tidak bisa menjalankan
perintah Allah tersebut. Oleh karena itu apabila sudah tiba waktunya
shalat, terutama shalat wajib, mari kita mantapkan niat menjalankan
kewajiban kepada Allah dan kita kalahkan Iblis laknatullah yang tiada
henti-hentinya menggoda manusia.
Tidak hanya itu, teman-teman Iblis
adalah Pemakan riba, pezina, orang mabuk, pencuri, tukang sihir, orang
yang bersumpah cerai, orang-orang yang meninggalkan shalat.
Melakukan Perubahan Dengan Menata Kehidupan
Melihat
kenyataan bahwa kehidupan kita tidak lepas dari ujian dan cobaan dan
bahkan godaan syaitan yang selalu mengincar kita apapun aktivitas yang
kita jalankan maka apa yang perlu kita lakukan, kita harus melakukan
perubahan yang nyata pada diri kita, lingkungan kita, dimana saja kita
berada.
Mengubah perilaku ternyata tidak cukup hanya dengan contoh,
akan tetapi kita juga harus mau mendidik, melatih, dan membina secara
sistematis, berkesinambungan, dan terus menerus. Proses ini merupakan
bagian dari perubahan. Pendidikan merupakan media yang sangat efektif
untuk melakukan perubahan.
Oleh karena itu, daripada membeli
barang-barang di rumah yang mahal-mahal dan tidak terlalu diperlukan,
lebih baik uangnya digunakan untuk mendidik anak, melatih anak kita
supaya mampu hidup lebih baik. Penghasilan kelurga yang didapat
hendaknya dikumpulkan supaya anak-anak bisa belajar terus menerus, bisa
berlatih terus menerus dan bisa terdidik terus menerus. Prioritas
keluarga diera sekarang yang penting adalah bukan membeli barang-barang
yang bagus, yang terpenting adalah bagaimana agar anak-anak punya
kesempatan untuk terus mendapatkan pendidikan yang memadai.
Subhanallaah,
demikian indahnya kebersamaan sebuah keluarga yang memiliki komitmen
yang luar biasa akan pentingnya pendidikan. Disamping mendidik dan
melatih, maka semestinya kita buat pula aturan atau sistem. Buatlah
aturan di rumah kita, di kantor kita, di organisasi kita, atau dimana
pun agar orang lain bisa terbantu untuk berubah sesuai yang diinginkan.
Suatu sistem akan segera hancur berantakan jika tidak memiliki aturan
main. Jalan raya yang tanpa aturan, akan kacau balau, macet dimana-mana.
Setiap orang berebutan, saling mendahului, dan berhenti dimana saja.
Tanpa aturan, semua berantakan. Karenanya semua harus ada aturannya.
Di
dalam rumah tangga yang tidak memiliki aturan main yang benar, yakin
sekali rumah tangga yang semacam ini akan segera hancur. Anak tidak
dididik agama secara serius, ibadah dibiarkan semaunya, dan tidak diberi
contoh yang benar oleh orang tuanya. Saat-saat bersama di rumah tidak
ada aturannya. Tidak punya aturan yang real bagaimana mendidik anak
menjadi lebih baik. Maka rumah tangga yang tidak punya komitmen untuk
sebuah aturan bahkan lagi tidak tahu aturan, akan cenderung saling
menyakiti, saling melukai, dan saling menghancurkan.
Tegakkanlah
aturan yang adil, yang dibuat atas kesepakatan bersama. Lingkungan kerja
kita harus merupakan sistem yang kondusif yang dapat membantu orang
berubah menjadi lebih baik. Seperti yang kita jalani, haruslah terjadwal
jam berapa baca Al Qur’an, jam berapa bersama memecahkan masalah, jam
berapa bertukar pikiran, jam berapa harus bersilaturahmi, jam berapa
harus bercengkerama, dan lain sebagainya. Kita harus membuat aturan
yang jelas. Yakinlah bahwa rumah tangga yang tidak punya aturan, tidak
punya sistem yang bagus, lambat laun akan berantakan dan menderita.
Sama
saja dengan perusahaan atau lembaga yang pegawainya jarang shalat,
aturan tidak ditaati, pimpinan tidak memberi contoh yang baik,
bersiap-siaplah untuk segera gulung tikar.
Kondisi negara kita saat
ini pun demikian, kehilangan contoh suri tauladan, pendidikan SDM-nya
tidak jelas mau dibawa kemana, sistemnya juga berantakan, dan sebagian
lagi, ibadahnya juga semrawut. Jangan heran jika yang kita dapati
adalah derita demi derita, kehinaan demi kehinaan, naudzubillaah.
Karena
itu, kekuatan ibadah, kekuatan do’a, kekuatan munajat harus menjadi
senjata untuk mengubah anak-anak, juga teman-teman kita menuju arah
kebaikan. Tegakkanlah di rumah tangga kita aturan dengan baik, panjatkan
pula do’a secara terus menerus, melimpah dari lisan kita. Bantu agar
orang lain menjadi lebih baik. Buat aturan yang benar, kondusif, dan
pastikan diri kita jadi contoh. Mudah-mudahan hidup yang cuma sekali ini
bisa bermanfaat dengan mengubah orang lain menuju kebaikan.
Mudah-mudahan
kita semua dapat mengevaluasi diri masing-masing. Hidup cuma sekali,
kenangan terindah bagi anak-anak kita adalah kepribadian ayah ibunya
yang benar-benar mulia. Kenangan terindah bagi masyarakat di sekitar
kita adalah kearifan diri kita. Jangan sampai orang sibuk membicarakan
contoh keburukan pribadi kita, naudzubillaah.
Dengan menata kehidupan
dan menginternalisasikan sistem yang bernuansa religius dalam tatanan
kehidupan yang kita jalani InsyaAllah kita benar-benar bisa membuktikan
kualitas ketakwaan kita kepada Allah SWT. []*) M. Triono Al Fata, S.Th.I, M.Pd.I adalah Guru MTsN Model Trenggalek dan Dosen STIT Sunan Giri Trenggale@Rprt.Dhani Arza
Continue Reading